Unordered List

위대한 것을 성취하려면 행동할 뿐 아니라 꿈을 뀌야 하며 계획할 뿐 아니라 믿어야 한다
( Untuk menyelesaikan sesuatu yang besar, tidak hanya harus dengan tindakan, tetapi juga impian. Tidak hanya suatu rencana, tetapi harus percaya)

Benarkah Allah subhanahu wata'ala tidak menghukum kita ketika kita bermaksiat?? ﻗﺎﻝ أﺣﺪ ﺍﻟﻄﻼﺏ ﻟﺸﻴﺨﻪ : ﻛﻢ ﻧﻌﺼﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻻ ﻳﻌﺎﻗﺒﻨ...


Benarkah Allah subhanahu wata'ala tidak menghukum kita ketika kita bermaksiat??
ﻗﺎﻝ أﺣﺪ ﺍﻟﻄﻼﺏ ﻟﺸﻴﺨﻪ :
ﻛﻢ ﻧﻌﺼﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻻ ﻳﻌﺎﻗﺒﻨﺎ ..

Seorang santri bertanya kepada guru nya:
Berapa kali kita bermaksiat kepada Allah dan Dia tidak menghukum kita???
ﻓﺮﺩ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ :
Maka sang guru pun menjawab :
ﻛﻢ ﻳﻌﺎﻗﺒﻚ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﻧﺖ ﻻ ﺗﺪﺭﻱ .. ﺃﻟﻢ ﻳﺴﻠﺒﻚ ﺣﻼﻭﺓ ﻣﻨﺎﺟﺎﺗﻪ .. ﻭﻣﺎ ﺍبتلى أﺣﺪ ﺑﻤﺼﻴﺒﺔ ﺃﻋﻈﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻦ ﻗﺴﻮﺓ ﻗﻠﺒﻪ ..
Berapa kali Allah subhanahu wata'ala telah menghukummu namun kamu tidak mengetahuinya?
Bukankah ketika dihilangkannya dari dirimu akan rasa ni'mat bermunajat kepada-Nya adalah merupakan sebuah hukuman?
Dan tidak ada musibah yang lebih besar menimpa seseorang lebih dari kerasnya hati...

إﻥ أﻋﻈﻢ ﻋﻘﺎﺏ ﻣﻤﻜﻦ أﻥ ﺗﺘﻠﻘﺎﻩ ﻫﻮ ﻗﻠﺔ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ إﻟﻰ أﻋﻤﺎﻝ ﺍﻟﺨﻴﺮ ..
Sesungguhnya hukuman yang paling besar yang mungkin kamu temui adalah sedikitnya taufik kepada perbuatan baik...
أﻟﻢ ﺗﻤﺮ ﻋﻠﻴﻚ ﺍلأﻳﺎﻡ ﺩﻭﻥ ﻗﺮﺍﺀﺓ القرآﻥ ..
Bukankah telah berlalu nya hari-harimu tanpa bacaan Al Quran? (itu adalah sebuah hukuman)
أﻟﻢ ﺗﻤﺮ ﻋﻠﻴﻚ ﺍﻟﻠﻴﺎﻟﻲ ﺍﻟﻄﻮﺍﻝ ﻭﺃﻧﺖ ﻣﺤﺮﻭﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ..
Bukankah telah berlalu malam malam yang panjang sedangkan engkau terhalang dari shalat malam? (itu juga adalah sebuah hukuman)
أﻟﻢ ﺗﻤﺮ ﻋﻠﻴﻚ ﻣﻮﺍﺳﻢ ﺍﻟﺨﻴﺮ .. ﺭﻣﻀﺎﻥ .. ﺳﺖ ﺷﻮﺍﻝ .. ﻋﺸﺮ ﺫﻱ ﺍﻟﺤﺠﺔ .. ﺍﻟﺦ ﻭﻟﻢ ﺗﻮﻓﻖ إﻟﻰ ﺍﺳﺘﻐﻼﻟﻬﺎ ﻛﻤﺎ ﻳﻨﺒﻐﻲ .. أﻱ ﻋﻘﺎﺏ أﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ؟
Bukankah telah berlalu musim-musim kebaikan, Ramadhan, enam hari syawwal, sepuluh hari dzulhijjah, dan lainnya..., sedangkan engkau tidak mendapatkan taufik untuk memanfaatkannya sebagaimana mestinya... hukuman manalagi yang lebih banyak dari ini...?
أﻻ ﺗﺤﺲ ﺑﺜﻘﻞ ﺍﻟﻄﺎﻋﺎﺕ ..
Tidakkah engkau merasakan beratnya ketaatan?
أﻻ ﺗﺤﺲ ﺑﻀﻌﻒ أﻣﺎﻡ ﺍﻟﻬﻮﻯ ﻭﺍﻟﺸﻬﻮﺍﺕ ..
Tidakkah engkau merasa lemah dihadapan hawa nafsu dan syahwat?
أﻟﻢ ﺗﺒﺘﻠﻰ ﺑﺤﺐ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻭﺍﻟﺠﺎﻩ ﻭﺍﻟﺸﻬﺮة ..
Bukankah engkau sedang diuji dengan cinta harta, kedudukan, dan popularitas..?
ﺃﻱ ﻋﻘﺎﺏ أﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ..
Hukuman mana yang lebih banyak dari itu?
أﻟﻢ ﺗﺴﻬﻞ ﻋﻠﻴﻚ ﺍﻟﻐﻴﺒﺔ ﻭﺍﻟﻨﻤﻴﻤﺔ ﻭﺍﻟﻜﺬﺏ ..
Bukankah engkau merasa ringan untuk berghibah, namimah dan dusta..?
أﻟﻢ ﻳﺸﻐﻠﻚ ﺑﺎﻟﻔﻀﻮﻝ ﻭﺍﻟﺘﺪﺧﻞ ﻓﻴﻤﺎ ﻻ ﻳﻌﻨﻴﻚ ..
Bukankah engkau tersibukkan untuk campur tangan pada hal yang tidak bermanfaat untukmu..?
أﻟﻢ ﻳﻨﺴﻴﻚ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﻭﻳﺠﻌﻞ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ أﻛﺒﺮ ﻫﻤﻚ ..
Bukankah dengan engkau melupakan akhirat menjadikan dunia sebagai tujuan utamamu?
ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺨﺬﻻﻥ ﻣﺎ ﻫﻮ إﻻ ﺻﻮﺭ ﻣﻦ ﻋﻘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ..
Tipuan ini tidak lain kecuali bentuk hukuman dari Allah...
# ﺇﺣﺬﺭ ﻳﺎ ﺑﻨﻲ ﻓﺎﻥ أﻫﻮﻥ ﻋﻘﺎﺏ ﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻣﺤﺴﻮﺳﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﺃﻭ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺃﻭ ﺍﻟﺼﺤﺔ ..
Hati-hatilah anakku, sesungguhnya hukuman Allah yang paling ringan adalah yang terletak pada materi, harta, anak, kesehatan ...
ﻭإﻥ أﻋﻈﻢ ﻋﻘﺎﺏ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﻠﺐ ..
Dan sesungguhnya hukuman terbesar adalah yang ada pada hati...
ﻓﺎﺳﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﺎﻓﻴﺔ ﻭﺍﺳﺘﻐﻔﺮ ﻟﺬﻧﺒﻚ ..
Maka, mintalah keselamatan kepada Allah, dan mintalah ampunan untuk dosamu...
فإﻥ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻳﺤﺮﻡ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﻟﻠﻄﺎﻋﺎﺕ ﺑﺴﺒﺐ ﺍﻟﺬﻧﺐ ﻳﺼﻴﺒﻪ
Karena sesungguhnya seorang hamba yang diharamkan taufik untuk melakukan ketaatan karena sebab dosa yang menimpanya....
Ternyata hukuman Allah yang terberat itu bukanlah hanya ketika kita kehilangan materi, harta dan jabatan, tetapi hukuman yang terberat dari Allah itu adalah ketika Allah subhanahu wata'ala telah menutup diri kita untuk dapat berbuat dan melakukan kebaikan-kebaikan.

Untuk para pejuang dakwah..  Tolong baca sampai abis, kata-katanya indah dan penuh makna. Resign dari Dakwah: Menelisik Diri un...

Untuk para pejuang dakwah.. 
Tolong baca sampai abis, kata-katanya indah dan penuh makna.

Resign dari Dakwah: Menelisik Diri untuk Berbenah
___________________________
@dwiboediyanto. 
*Kabid. Pelatihan dan Dakwah PW IKADI Yogyakarta*

Meninggalkan dakwah itu perkara gampang. Kita tinggal sedikit demi sedikit menjauhinya saja. Tidak aktif lagi tanpa pemberitahuan. Tidak merespon saatu dihubungi. Bersikap masa bodoh terhadap aktivasi. Tidak datang saat diundang. Sembunyi ketika dimobilisasi. Intinya, bersikap cuek dan masa bodoh saja. Tenggelamkan dalam aktivitas yang memuaskan diri. Dengan cara demikian lambat laun kita akan meninggalkan (atau barangkali lebih tepat — ditinggalkan dakwah). Gampang sekali. Tapi apa manfaatnya bagi kita mengambil sikap demikian?
Benar, meninggalkan dakwah itu perkara yang mudah. Tapi saya sangat yakin, jauh lebih mudah lagi bagi Allah ta’ala untuk mencari pengganti yang jauh lebih baik daripada mereka yang memutuskan untuk ‘pensiun’ dari dakwah. Para pengganti itu akan menggerakkan dakwah jauh lebih ikhlas dan bersemangat. Ya, sangat mudah bagi Allah untuk melakukannya. Sangat mudah. Tidak ada sedikit pun kerugian bagi dakwah ketika seseorang resign darinya. Dakwah akan terus berjalan, ada atau pun tanpa kita.
Sekali lagi kita bertanya, apa manfaatnya bagi hidup kita? Dakwah memang tidak memberi tumpukan harta. Bahkan bisa jadi kitalah yang mesti menyisihkan dari yang Allah karuniakan pada kita untuk menggerakkan dakwah. Tapi di sanalah kita menemukan makna yang indah. Kita terlibat dalam dakwah bukan untuk memperoleh harta berlimpah. Kita ingin mendapatkan keridlaan Allah, sehingga dengannya hidup kita bertabur barakah.
Sekiranya kita memilih ‘masa bodoh’ dan resign dari dakwah, sungguh ada satu hal yang dikhawatirkan: dicabutnya barakah dari hidup kita. Direnggutnya rasa qanaah terhadap harta dari diri kita. Tiba-tiba saja kita berubah menjadi orang yang sangat ‘kemaruk’ dan rakus terhadap duniawi, secuil apapun ia. Lalu aktivitas dakwah ditinggalkan. Forum-forum pembinaan mulai diabaikan.
Sebagai gantinya proyek-proyek materi menjadi lebih diutamakan.
Dalam situasi demikian (kadang) seseorang masih merasa berkebajikan. Padahal, yang dilakukannya tidak lebih dari aktivitas remeh yang disesaki oleh hasrat yang besar terhadap uang. Semakin dikejar, rasa puas tak pernah akan terpenuhi. Tiba-tiba juga kebutuhan tak bisa tercukupi, padahal pendapatan lebih banyak dari sebelumnya. Jika hal demikian yang terjadi, alangkah baik, sekiranya kita berhenti sejenak. Menelisik kondisi diri.
Jangan-jangan kebarakahan itu telah dicerabut dari hidup kita. Na’udzubillahi min dzalik.
Setiap saat kita memang perlu menelisik diri. Jika ada benih-benih bergesernya orientasi, mari diluruskan kembali. Saat kelesuan mulai tumbuh, segera pupus dengan semangat beramal. Ketika kejenuhan mulai melanda, perlulah silaturahmi agar ada penyegaran dan suntikan semangat membara.
Memperturutkan kelesuan dan kemalasan beraktivitas dakwah hanya mendatangkan situasi yang semakin berat. Lambat laun seseorang berkemungkinan ‘resign’ tanpa pamitan.
Dalam situasi demikian, ia tidak menyadari bahwa ada yangi berbeda dari cara berpikir, berasa, dan juga bertindak. Mulailah ia bersikap seperti penumpang dan mulai menanggalkan mental seorang sopir (driver) yang bersemangat, pantang menyerah dan berkeluh kesah, berorientasi untuk mencari solusi, dan memilih untuk tidak menghujat serta menghakimi.
Saking mudahnya meninggalkan dakwah, alasan apapun bisa dikemukakan.
Seseorang dapat mengelabuhi murabbi atau qiyadah dakwah dengan alasan yang tampak masuk akal: bisnis, kerja, urusan keluarga, atau apapun (Qs. Al Fath:11 dan Al Ahzab: 13). Tapi sungguh, Allah yang paling tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam diri kita.
Apakah alasan-alasan itu benar adanya, ataukah muncul dari kelemahan diri dan hasrat kuat untuk menghindar dari amanah. Lagi-lagi, kita memang perlu banyak menelisik diri sendiri.
Jika hari-hari ini kita mulai tampak lesu dan tidak bergairah di jalan dakwah, forum-forum pembinaan juga terasa gampang ditinggalkan, kontribusi yang mesti diberikan juga terasa berat ditunaikan, kerinduan bertemu ikhwah tergantikan dengan hasrat kuat untuk mengejar duniawi, atau teramat nyinyir dan antipati memandang dakwah serta komunitas kebaikan lainnya, rasa-rasanya kitalah yang lebih butuh untuk menerima banyak nasihat dibandingkan orang lain.
Sungguh, tak ada manfaat yang dapat diperoleh dari meninggalkan dakwah, kecuali hidup yang tercerabut dari memperoleh barakah. Hari-hari ini ketika waktu istirahat bagi sejumlah ikhwah terasa amat singkat, kita sungguh merasa malu. Sebagian kita masih bersantai-santai, bahkan membiarkan diri dalam lalai. Ya, ada banyak di antara kita, termasuk saya, yang lebih butuh nasihat.
Semoga Allah jadikan kita generasi yang Allah kokohkan di jalan dakwah ini, terus kokoh, semakin kokoh hingga husnul khotimah. Aamiin. []

Setetes Hikmah, Menata Hati. "SAYA TAK MAU BERPISAH DENGAN HARTA SAYA...". (HARTA DIBAWA MATI) Haji Usman, sebutlah begitu n...



Setetes Hikmah, Menata Hati.
"SAYA TAK MAU BERPISAH DENGAN HARTA SAYA...".
(HARTA DIBAWA MATI)

Haji Usman, sebutlah begitu nama beliau.
Mungkin orangtuanya dulu berdo'a agar sang putra mewarisi kemuliaan Sayyidina Utsman ibn Affan Radhiyallahu ‘Anhu.
Pemilik salah satu usaha batik terkemuka di Yogyakarta ini memang dikenal atas kedermawanannya, seakan harta telah begitu tak berharga baginya. Seakan dunia telah begitu hina di matanya.
Ringan baginya membuka kotak persediaan, gampang baginya menyeluk kantong simpanan dan seakan tanpa beban dia mengulur bantuan.
Inilah mungkin sosok nyata orang yg dunia di tangannya dan akhirat di hatinya.
Maka beberapa orang pengusaha muda yg bersemangat mendatangi beliau.
“Ajarkan pada kami, Ji,” kata mereka, “bagaimana caranya agar kami seperti haji Usman. Bisa tidak cinta pada harta dan tidak sayang pada kekayaan... Hingga seperti haji Usman, bershadaqah terasa ringan”.
“Wah", sahut Haji Usman tertawa, “salah alamat!”
“Lho?”...
“Lha iya. Kalian datang pada orang yg salah. Lha saya ini SANGAT MENCINTAI HARTA SAYA je. Saya ini sangat mencintai kekayaan saya je".
“Lho?”..
“Kok lho. Lha sebab saking cinta dan sayangnya saya pada harta, SAMPAI-SAMPAI SAYA TIDAK RELA MENINGGALKAN HARTA SAYA DI DUNIA INI.
Saya itu TIDAK MAU BERPISAH dengan kekayaan saya.
Makanya sementara ini saya titip-titipkan dulu...
TITIP pada Masjid,
TITIP pada anak yatim,
TITIP pada fakir miskin,
TITIP pada madrasah,
TITIP pada pesantren,
TITIP pada pejuang fii sabilillah.
Alhamdulillah ada yg berkenan dititipi, saya senang sekali. Alhamdulillah ada yg sudi diamanati, saya bahagia sekali.
Pokoknya DI AKHIRAT NANTI MAU SAYA AMBIL LAGI.
Saya ingin kekayaan saya itu dapat saya nikmati berlipat-lipat di akhirat".
“Lah...!” Siapa bilang harta tdk dibawa mati....?
Harta itu dibawa mati....!!! Caranya ? ... Minta tolong dibawakan oleh anak Yatim, Fakir miskin..dll....
Subhanallah.
(Dikutip dari buku Lapis-Lapis Keberkahan, Salim A Fillah, hal. 227-228)
Semoga manfaat

Malam Jum'at ya dear Muslimah salihah dimanapun berada, yuk kita hidupkan sunnah malam Jum'at dengan membaca surah Al-Kahfi, agar ...

Malam Jum'at ya dear Muslimah salihah dimanapun berada, yuk kita hidupkan sunnah malam Jum'at dengan membaca surah Al-Kahfi, agar terang cahaya Allah menyinari kita diantara 2 Jum'at ini 😊😊😊
Tag teman-temanmu juga ya agar sama-sama dalam kebaikan 😊😊😊

YA ALLAH.... Ketika ku katakan: Hamba di sakiti. Engkau menjawab:.."Janganlah kamu berputus asa dari Rahmat" .. (QS. 39:53)...

YA ALLAH....

Ketika ku katakan: Hamba di sakiti.
Engkau menjawab:.."Janganlah kamu berputus asa dari Rahmat" ..
(QS. 39:53)

Ketika ku katakan: Tak ada yg mengerti kegalauan hati hamba.
Engkau menjawab:.."Ingatlah, hanya dg mengingati Allah-lah hati menjadi tentram"...
(QS. 13:28)

Ketika ku katakan: Begitu banyak orang yang menyakiti hamba.
Engkau menjawab:.."Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka"..
(QS. 3:159)

Ketika ku katakan: Hamba sangat kesepian.
Engkau menjawab:.."Kami lebih kepadanya daripada urat lehernya"..
(QS. 50:16)

Ketika ku katakan: Dosa hamba melimpah.
Engkau menjawab:.."Dan siapa lagi yg dapat mengampuni dosa selain daripada Allah"..
(QS. 3:135)

Ketika ku katakan: Jangan tinggalkan hamba.
Engkau menjawab:".. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu"..
(QS. 2:152)

Ketika ku katakan: Masalah hamba sangat banyak.
Engkau menjawab:"..Barang siapa yg bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar"..
(QS. 65:2)

Ketika ku katakan: Impian hamba banyak yang tidak menjadi nyata.
Engkau menjawab:"..Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu"..
(QS. 40:60)

YAA ALLAH....

Bagaimana mungkin hamba-mu yang hina ini...
Tidak mencintai-Mu sepenuh jiwa dan raga.

:'(

Galau .. Galau tak selamanya terlarang Perlulah kita merasa galau Tentang dosa-dosa yang kita perbuat Apakah Allah ampuni… Atau...



Galau ..

Galau tak selamanya terlarang
Perlulah kita merasa galau
Tentang dosa-dosa yang kita perbuat
Apakah Allah ampuni…
Ataukah tidak…

Al Bukhari menyebutkan dalam Shahihnya dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ المُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا

“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah sedang berada di kaki gunung, ia takut kalau gunung tersebut menimpanya. Adapun orang yang durhaka melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, dia cukup mengusirnya seperti ini (dengan tangannya).”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Galau ..

Galau tak selamanya terlarang
Perlulah kita merasa galau
Tentang bagaimana nasib hati kita
Apakah akan tetap diatas agama…
Ataukah berpaling kebelakang…

Dari Anas – radiallahu ‘anhu -, bahwa Rasulullah banyak mengatakan,

يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك

“Wahai Rabb yang membolak balik hati, tetapkan hatiku dalam agamaMu.”

Aku bertanya, ‘Wahai Nabi Allah, kami beriman kepadamu dan dengan apa yang engkau bawa. Apakah engkau masih khawatir terhadap kami?!’

Nabi menjawab,

“Ya. Sesungguhnya hati berada di antara dua jemari Allah. Dia membolak baliknya sekehendakNya.”

(HR. At Turmudzi)


Galau ..

Galau tak selamanya terlarang
Perlulah kita merasa galau
Tentang akan seperti apa akhir hidup kita
Apakah khusnul khatimah…
Ataukah suul khatimah…

Rasulullah salallahu alaihi wasalam bersabda,

إن الرجل ليعمل الزمن الطويل بعمل أهل الجنة، ثم يختم له عمله بعمل أهل النار! وإن الرجل ليعمل الزمن الطويل بعمل أهل النار، ثم يختم له عمله بعمل أهل الجنة

“Ada orang yang sungguh-sungguh beramal dalam waktu yang lama dengan amalan ahli surga, kemudian menutup amalnya dengan amalan ahli neraka. Dan ada orang yang sungguh-sungguh melakukan amal ahli neraka dalam waktu yang lama, kemudian menutupnya dengan amalan ahli surga.”

(HR.Muslim)


Galau ..

Galau tak selamanya terlarang
Perlulah kita merasa galau
Tentang dimana tempat kita nanti
Apakah di surga…
Ataukah di neraka…

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,

لَوْ نَادَى مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ : أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّكُمْ دَاخِلُونَ الْجَنَّةَ كُلُّكُمْ أَجْمَعُونَ إِلا رَجُلا وَاحِدًا ، لَخِفْتُ أَنْ أَكُونَ هُوَ

“Seandainya seorang penyeru dari langit memanggil, ‘Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan masuk surga seluruhnya kecuali satu orang’, maka sungguh aku takut bila itu adalah diriku”

(HR. Abu Nuaim dalam al-Hilyah)



Penyusun : Arviani Ardillah dan Tim Editor

Murajaah : Ustadz Ammi Nur Baits

Kisah Romantis === Kemarin malam, istri ngambek padaku. Penyebabnya adalah gara-gara tumbuh dua bintik jerawat di kening dan binti...

Kisah Romantis

===
Kemarin malam, istri ngambek padaku. Penyebabnya adalah gara-gara tumbuh dua bintik jerawat di kening dan bintik-bintik hitam di hidungnya.
"Ini semua gara-gara Abang! Aku jadi jerawatan gini," seru istri padaku.
Setelah beberapa detik terbengong-bengong, aku beranikan diri untuk berucap, "Loh, aku salah apa?"
"Tau, ah." Istriku menutup teleponnya. Saat kutelepon balik, ia tetap tak mau menerima.
Aku terheran-heran. Aneh, kenapa istri yang jerawatan, tapi aku yang disalahin? batinku.
Namun, aku langsung ingat pada satu hukum yang berbunyi:
1. Perempuan tidak pernah salah.
2. Jika ternyata perempuan melakukan kesalahan, penyebabnya pasti laki-laki.
Berkaca dari hukum di atas, maka aku memutuskan untuk minta maaf pada istri.
"Maafkan abang ya Neng. Abang yang sudah menyebabkan jerawat itu muncul secara ugal-ugalan di kening Neng. Maafkan juga karena abang yang menyebabkan komedo tak ngerti adat itu muncul di hidung Neng."
Pesanku tak terbalas. Hingga tadi pagi tiba-tiba ia mengirim pesan,
"Kalau aku ga menarik lagi, apa Abang masih tetap cinta aku?"
Aku membaca pesan itu berkali-kali. Aih, jadi inikah yang menyebabkan istriku ngamuk-ngamuk tadi malam? Ah, mungkin istri takut jerawat itu membuatnya jelek dan tak menarik lagi di mataku, hingga nanti aku main hati dengan wanita lain. Istriku pasti lupa kalau hanya dia satu-satunya wanita yang dulu terpaksa mau nikah sama aku.
Agar menentramkan suasana, aku balas pesan tersebut,
"Abang akan selalu sayang sama Neng. Apapun yang terjadi pada kening dan hidung Neng."
Terjawab kembali, "Bohong. Pasti abang bohong."
"Aku ga bohong, sumprit, Neng."
"Tau ah. Aku ga percaya."
"Aku sayang kamu. Sungguh."
Tak terbalas.
"Kalau tak percaya, belahlah dadaku."
Lagi-lagi tak dibalas.
"Aku siap mengarungi selat Madura hanya untukmu. Tapi aku boleh pakai motor lewat Suramadu, ya?"
Sunyi.
Aku menepuk jidat. Cobaan apa lagi ini, Ya Allah?
Hingga pada siang hari aku memutuskan pergi ke bank, mentransfer gajiku bulan ini ke rekening BRI istri. Setelahnya, kukirim pesan lagi,
"Barusan abang sudah transfer ke rekeningnya Neng, sekian juta. Itu masih sebagian gaji. Sebagiannya lagi abang kirim tiga hari lagi."
Ajaib. Tiba-tiba, handphone-ku berklunting. Pesanku terbalas cepat.
"Kali ini Neng percaya kalau Abang sayang sama Neng. Ah, Neng beruntung punya suami seperti Abang."
Aku menyeka peluh di dahi. Alhamdulillah, akhirnya istri percaya juga padaku.
Ternyata kata TRANSFER, pada jaman sekarang dianggap lebih romantis oleh istri daripada kata CINTA.
Wahai para suami,dengarkanlah wasiatku ini, jika nanti istri Anda tiba-tiba bertanya, "Kalau aku sudah tidak cantik lagi, apakah Mas masih CINTA padaku?"
Maka, segeralah peluk ia dan ucapkan. "Percalah, Sayang. Aku akan selalu TRANSFER padamu."
Pasti nanti istri Anda akan langsung melonjak girang sambil berseru, "Olala, Mas adalah suami yang paling romantis di dunia ini!"
***


  _________________________    Idrus Ramli, Jangan “Ganggu” Aceh Kami!   Oleh: Khairil Miswar  Banda Aceh, 10 September 2015   T...

  _________________________   
Idrus Ramli, Jangan “Ganggu” Aceh Kami!  
Oleh: Khairil Miswar  Banda Aceh, 10 September 2015 

 Tulisan ini aku tujukan ke hadapan Yang Mulia Kiyai Haji Muhammad Idrus Ramli Hafizahullah. Anggap saja tulisan ini sebagai “surat cintaku” kepadamu. Bukannya aku tidak mengenal kantor Pos, bukan pula aku tak punya ongkos, tapi sengaja kutulis surat ini di sini, agar saudara-saudaraku dan juga saudara-saudaramu dapat membaca surat ini. Meskipun surat ini kutujukan kepadamu, tapi tidak ada secuil rahasia pun dalam surat ini.  Idrus Ramli yang dirahmati Allah, sebelum berpanjang kalam, izinkan aku untuk memperkenalkan diriku padamu. Bukan berarti aku begitu penting untuk engkau kenal, tapi aku hanya menjalankan firman Tuhanku, bahwa kita diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal. Sama halnya seperti dikau yang tak mengenal diriku, pada hakikatnya aku pun tidak mengenal dirimu, aku cuma tahu sedikit saja tentang dirimu. Baiklah, perkenalkan, Aku ini orang Aceh yang lahir di Aceh dan bernenek-moyang Aceh.  

Idrus Ramli yang berbahagia, kemarin (10 September 2015) orang-orang di “negeriku” telah melaksanakan satu acara yang mereka sebut sebagai “Parade Ahlussunnah Waljama’ah”. Dalam surat ini, aku tak hendak mengomentari acara tersebut, tersebab aku tahu bahwa itu adalah hak mereka sebagai warga negara. Mereka mau buat parade, karnaval, maraton, jalan santai atau apapun namanya, itu tidaklah menjadi urusanku. Cuma saja, aku “dengar-dengar”, dikau turut hadir dalam acara itu.  “Sayangku” Idrus Ramli, aku menulis surat ini singkat saja, karena aku tahu engkau tidak punya cukup waktu untuk berlama-lama membaca surat ini. Aku sangat paham akan jadwalmu yang “super sibuk”, hari ini engkau diundang ke Aceh, mungkin besok lusa engkau di undang ke Papua. Kesibukanmu dapat kumaklumi karena engkau adalah “Singa Aswaja” di Asia Tenggara, demikian khabaran yang kudengar dari kawan-kawanmu.  Begini Idrus Ramli, dalam acara “parade” itu, aku melihat beberapa spanduk yang berisikan penolakan terhadap Wahabi, PKI dan Syi’ah. Seperti aku katakan di atas, itu bukan urusanku, karena spanduk itu milik mereka dan yang menulis pun mereka. Cuma saja, aku merasa heran kepada dirimu yang turut memposting foto-foto itu di akun facebookmu. Engkau nampaknya sangat setuju dengan tulisan-tulisan itu. Secara tidak langsung, engkau telah ridha jika Wahabi disederajatkan dengan PKI dan Syi’ah. Meskipun engkau paham, bahwa Wahabi bukanlah Syi’ah, dan Syi’ah pun bukan Wahabi. Aku yakin seyakin yakinnya bahwa dikau juga paham bahwa Wahabi bukanlah PKI, dan PKI bukanlah Wahabi. 

Tapi engkau terlihat sangat berbahagia memposting foto-foto itu di facebookmu.  Idrus Ramli yang berbahagia. Soal kedatanganmu ke Aceh, pada prinsipnya tidaklah menjadi urusanku, karena engkau memakai biayamu sendiri. Aku juga paham bahwa kedatanganmu bukanlah “murni” kehendakmu, tapi hanya sekedar memenuhi undangan. Tapi, kemarin engkau pasti telah mendengar dan membaca di spanduk-spanduk bahwa Wahabi tidak layak hidup di Aceh. Dalam hal ini, aku melihat keterlibatanmu sudah terlalu jauh. Engkau telah turut campur dalam urusan rumah tangga kami (Aceh) yang semestinya bisa terselesaikan tanpa kehadiranmu.  Idrus Ramli yang dimuliakan Allah, terkait kebencianmu terhadap Wahabi, itu adalah hakmu, tiada yang mampu melarangmu untuk menebar kebencian terhadap Wahabi. Silahkan dikau membenci Wahabi, tapi lakukan itu di tanahmu sendiri (Jawa), jangan engkau “tebar kebencian” di tanah kami (Aceh). Jika pun Wahabi ingin diusir dari Aceh, maka biarlah itu menjadi urusan masyarakat Aceh, tanpa perlu engkau melibatkan diri.  

Idrus Ramli “sayangku”, saat ini kaum muslimin di Papua tengah diuji. Engkau tentu ingat beberapa waktu lalu mesjid mereka dibakar. Datanglah ke sana untuk memberi peringatan kepada pihak-pihak yang telah “mengganggu” saudara-saudara kita. Engkau juga pasti tahu, bahwa kaum muslimin di Suriah juga hidup dalam kesusahan dan terpaksa mengungsi menghidari perang akibat kekejaman si Basyar yang telah melampau batas. Datangilah mereka, bantu mereka, semangati mereka, karena mereka adalah saudara-saudara kita seiman. Dan yang terpenting, lupakanlah Aceh!  Sebelum aku mengakhiri surat ini, aku pertegas kembali bahwa surat ini aku tujukan kepada engkau seorang wahai Idrus Ramli “tersayang”, bukan untuk yang lain. Idrus Ramli “cintaku”, di akhir surat ini, aku berharap agar engkau tidak lagi “mengusik” kebersamaan kaum muslimin di tanah kami (Aceh). Biarkan Aceh kami hidup damai. Kami sudah lelah berperang. Pergilah, pergilah, dan pergilah engkau, pulang ke “negerimu”.  

http://m.kompasiana.com/khairilmiswar/idrus-ramli-jangan-ganggu-aceh-kami_55f2c9c080afbd790addc5e2